Lead:
Di sebuah bangunan bercat hijau dengan jendela-jendela putih di Lasi, Sumatera Barat, anak-anak berdiri berbaris rapi di depan pintu masuk Panti Asuhan Ihwanus Safa. Di hadapan mereka, relawan Yayasan Baitul Mal Care (BMC) menurunkan kantong-kantong hitam berisi makanan dan kebutuhan pokok. Bagi anak-anak itu, hari itu bukan sekadar Jumat biasa—melainkan bagian dari tradisi “Jumat Berkah”, sebuah praktik berbagi yang menghidupkan solidaritas sosial di tengah keterbatasan.
Dalam ajaran Islam, hari Jumat memiliki kedudukan istimewa. Umat Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan pada hari tersebut. Dari nilai inilah lahir tradisi yang populer di Indonesia sebagai “Jumat Berkah”—sebuah gerakan berbagi makanan, sedekah, dan bantuan sosial setiap pekan.
Yayasan Baitul Mal Care menjadikan momentum Jumat sebagai hari rutin untuk menyalurkan donasi kepada mereka yang membutuhkan, termasuk anak-anak yatim di Panti Asuhan Ihwanus Safa Lasi dan beberapa panti asuhan lainnya di wilayah sekitar.
“Jumat itu hari yang penuh keberkahan. Kami ingin keberkahan itu dirasakan bersama, terutama oleh anak-anak yang membutuhkan perhatian,” ujar Aril , salah satu relawan BMC, kepada saya.
Kegiatan dimulai jauh sebelum Jumat tiba. Para relawan mengumpulkan donasi dari masyarakat—mulai dari transfer kecil individu, hingga sumbangan masyarakat lokal. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli bahan makanan, nasi bungkus, serta kebutuhan pokok seperti beras, minyak, dan telur.
Pada Jumat sore, relawan mendatangi Panti Asuhan Ihwanus Safa Lasi. Di halaman depan, anak-anak menyambut dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Sebagian mengenakan pakaian muslim sederhana, sebagian lagi berdiri sambil menggenggam tangan teman di sampingnya.
“Kami senang kalau kakak-kakak datang. Rasanya seperti ada keluarga yang peduli,” kata Rafi (nama samaran), salah satu anak panti.
Menurut pengurus panti, bantuan rutin seperti ini sangat membantu operasional sehari-hari. “Biaya makan dan pendidikan anak-anak terus berjalan. Donasi seperti ini meringankan beban kami,” ujar seorang pengelola panti.
Selain panti asuhan Ihwanus Safa Lasi, Yayasan BMC juga menyalurkan bantuan ke beberapa panti asuhan lain di wilayah Sumatra Barat,ini memperluas dampak solidaritas ini ke lebih banyak anak.
Indonesia, meskipun mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun terakhir, masih menghadapi tantangan ketimpangan dan kerentanan ekonomi. Data resmi menunjukkan jutaan warga hidup dekat garis kemiskinan, sehingga sedikit gejolak harga pangan atau kehilangan pekerjaan dapat berdampak signifikan.
Dalam situasi seperti ini, panti asuhan sering kali bergantung pada donasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak. Bantuan rutin dari komunitas lokal menjadi pelengkap penting bagi program bantuan sosial pemerintah.
“Bukan hanya soal makan hari ini,” kata Dewi, relawan perempuan yang ikut membagikan paket makanan. “Ini soal memastikan anak-anak tetap sekolah, tetap sehat, dan merasa diperhatikan.”
Yang menarik dari kegiatan Jumat Berkah bukan hanya isi kantong bantuan, melainkan suasana kebersamaan yang tercipta. Setelah penyerahan bantuan, relawan dan anak-anak sering berbincang singkat, berdoa bersama, atau sekadar berfoto untuk dokumentasi.
Seorang tokoh masyarakat setempat menilai kegiatan ini memperkuat hubungan sosial. “Anak-anak muda belajar peduli. Anak-anak panti merasa dihargai. Ini membangun jembatan antara yang memberi dan yang menerima.”
Konsep “baitul mal” sendiri memiliki akar sejarah panjang dalam peradaban Islam sebagai lembaga pengelola dana publik untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam skala lokal, Yayasan Baitul Mal Care menghidupkan kembali semangat tersebut dalam bentuk yang sederhana namun konsisten.
Tradisi berbagi pada hari Jumat bukan hanya fenomena Indonesia. Di berbagai negara mayoritas Muslim, praktik serupa berlangsung dalam bentuk dapur umum, pembagian roti gratis, atau distribusi paket sembako.
Di Turki, dapur umum berbasis wakaf menyediakan makanan bagi warga miskin setiap pekan. Di Pakistan dan Bangladesh, komunitas lokal membagikan nasi dan roti kepada masyarakat kurang mampu usai salat Jumat. Di Inggris dan Amerika Serikat, komunitas Muslim mengorganisasi program “feed the homeless” yang juga sering dilaksanakan pada hari Jumat.
Prinsip dasarnya sama: zakat, sedekah, dan tanggung jawab sosial kolektif.
Namun di Lasi, Sumatera Barat, nilai global itu menemukan bentuknya dalam wajah anak-anak yang tersenyum menerima bantuan, dan relawan yang datang tanpa sorotan kamera internasional.
Di tengah dunia yang kerap dibayangi ketimpangan ekonomi dan krisis kemanusiaan, praktik sederhana seperti Jumat Berkah yang dilakukan yayasan BMC di Panti Asuhan Ihwanus Safa Lasi mengingatkan bahwa solidaritas masih hidup dalam tindakan-tindakan kecil yang berulang.
Tradisi ini mungkin berakar pada ajaran Islam dan konteks lokal Indonesia, tetapi pesannya bersifat universal: bahwa kesejahteraan bersama dimulai dari kepedulian terhadap yang paling rentan.
Setiap Jumat, di balik kantong-kantong bantuan yang dibagikan, tersimpan pesan yang lebih besar
bahwa komunitas yang saling menjaga adalah fondasi paling kokoh bagi harapan.













